Aku masih menghitung rintik yang
jatuh
Menengadahkan tangan lalu berusaha
menggengamnya tapi gagal
Orang-orang sibuk berlari mengejar
bus yang telah penuh disesaki penumpang
Aku masih berdiri di pinggir jalan,
Merasakan tetes demi tetes
menyentuh kepalaku
Cahaya lampu dan genangan air
beradu hanya menimbulkan bias
Percuma berlarian mengejar,
lagi-lagi tawuran suporter bola,
Dan bus-bus itu kena macet.
Aku menarik nafas dalam, merogoh
benda ajaib itu
Tut.. Tut.. Tut.. Kamu mengangkat teleponku
“Aku segera kesana, berteduhlah.”
Sial, rok kotak-kotakku sudah
kuyup, rambutku juga lepek.
Lalu dia datang, bukan dengan kuda
putih tentunya.
“Kenapa nggak berteduh?” Ia
bersungut
Melihat sekujur tubuhku basah.
Jaketku mengucurkan air tanpa
diperas.
Ia membawaku pulang.
Tapi kurasa itu bukan pulang.
Karena ia adalah rumah bagiku.
Ia menarik tanganku ke pinggangnya
Sesekali menghangatkan tanganku
dengan tangannya yang lebar
Deru suara motor dan suara hujan
menjadi sebuah irama
Malam yang pekat, dan ia
mengkhawatirkanku
Aku hanya tersenyum,
berharap pulang yang sesungguhnya adalah ke hatinya.
Aku hanya tersenyum,
berharap pulang yang sesungguhnya adalah ke hatinya.
-Beberapa tahun silam

0 komentar:
Posting Komentar