Minggu, 20 Desember 2015

PULANG


Photo by Google

Pikiranku yang liar membawaku pada ingatan akan hujan
Aku masih menghitung rintik yang jatuh
Menengadahkan tangan lalu berusaha menggengamnya tapi gagal
Orang-orang sibuk berlari mengejar bus yang telah penuh disesaki penumpang
Aku masih berdiri di pinggir jalan,
Merasakan tetes demi tetes menyentuh kepalaku
Cahaya lampu dan genangan air beradu hanya menimbulkan bias
Percuma berlarian mengejar, lagi-lagi tawuran suporter bola,
Dan bus-bus itu kena macet.
Aku menarik nafas dalam, merogoh benda ajaib itu
Tut.. Tut.. Tut.. Kamu mengangkat teleponku
“Aku segera kesana, berteduhlah.”

Sial, rok kotak-kotakku sudah kuyup, rambutku juga lepek.
Lalu dia datang, bukan dengan kuda putih tentunya.
“Kenapa nggak berteduh?” Ia bersungut
Melihat sekujur tubuhku basah.
Jaketku mengucurkan air tanpa diperas.
Ia membawaku pulang.
Tapi kurasa itu bukan pulang.
Karena ia adalah rumah bagiku.

Ia menarik tanganku ke pinggangnya
Sesekali menghangatkan tanganku dengan tangannya yang lebar
Deru suara motor dan suara hujan
menjadi sebuah irama
Malam yang pekat, dan ia mengkhawatirkanku
Aku hanya tersenyum, 
berharap pulang yang sesungguhnya adalah ke hatinya. 

-Beberapa tahun silam








0 komentar:

Posting Komentar